Mount Apo
(Sebagaimana dimuat dalam Bulletin Wanadri)
Saat menjelajahi internet untuk mencari informasi mengenai persyaratan visa pelajar bagi putri saya yang akan melanjutkan sekolah di Davao City – Filipina, tanpa sengaja saya menemukan sebuah artikel kecil di salah situs internet mengenai pendakian ke Mt. Apo pada tahun 1997 yang ditulis oleh Chito Razon. Menjelang paragraf terakhir ditulis: “At 7:30 in the morning 29 August, we were the tallest human beings on top of the Philippine soil”. Titik tertinggi di Filipina! Saya baru menyadari ternyata puncak Mt. Apo dengan ketinggian 2958 mdpl, atau kurang lebih sama dengan gunung Gede, adalah puncak tertinggi dari 29 gunung yang menyebar di seluruh Filipina. Artikel lainnya lagi menceritakan keluhan Thom Burns, seorang pendaki asal Maine - Amerika, yang terserang hypothermia karena terpaan badai pada saat mencapai puncak. Selain mengeluhkan masalah porter, keluhan Burns mengenai ketidaktersediaannya shelter di sekitar puncak ditanggapi secara tegas oleh kelompok pendaki setempat bahwa mereka sengaja tidak menyiapkan fasilitas ini di sepanjang trail untuk meminimalkan sentuhan manusia. Pembangunan shelter dan fasilitas infrastruktur lainnya adalah salah satu yang dipantangkan karena dipastikan akan menggangu kelestarian alam.
Menurut legenda masyarakat setempat Mt. Apo adalah kerajaan dewa gunung yang bernama Apo Sandawa. Sebagai puncak yang tertinggi gunung ini selalu disimbolkan sebagai “The King of Philippine mountains” atau “The King of Philippine peaks”.
Artikel-artikel tersebut seolah menggoda saya untuk larut dalam keliaran dan keindahannya yang bersahaja. Mudah ditebak kalau kemudian saya terpancing untuk ‘mengunjungi’ Mt. Apo.
Kapatagan
Dengan menggunakan fasilitas panggilan jarak jauh dan email saya menghubungi salah seorang relasi di Davao City, Herson Salmon Jr (Junior), untuk mengatur perijinan dan jadwal pendakian.
Setelah tiba di Davao City saya baru mendapatkan nama-nama rekan lainnya yang akan menyertai perjalanan ini. Mereka terdiri dari Ruel “Weng” Sasuman , Antonio “Payat” Lisondra Jr, Joanne Santos , dan Deneb “Edoc” Lee. Junior dan Edoc adalah pendaki senior dan merupakan anggota dari kelompok Apo Mountaineering Club (AMOC), Inc. Kelompok yang beranggotakan sekitar 50 orang ini didirikan tahun 1982.
Pendakian ke Mt. Apo umumnya dilakukan melalui 2 jalur; jalur Kidapawan dan jalur Kapatagan. Jalur Kidapawan merupakan jalur yang paling populer digunakan karena trailnya lebih mudah. Setelah beberapa hari berada di Davao City, saya mendapat kepastian bahwa jalur yang akan kami gunakan adalah jalur Kapatagan karena adanya bukit longsor di bagian jalur Kidapawan.
Selasa malam, 4 Juli, setelah merapikan perbekalan ke dalam ransel, saya mencoba untuk tidur lebih awal mengingat besok subuh kami semua sudah harus berkumpul.
Jam 3:40 subuh saya bersama Junior dan Weng menggunakan taksi meluncur ke tempat pertemuan di mana ke tiga orang rekan lainnya, Edoc, Payat, dan Joanne, menunggu. Joanne adalah satu-satunya pendaki wanita dan yang termuda di dalam rombongan kami yang berjumlah 6 orang. Untuk menumpang truk sayur ini masing-masing dikenakan biaya P.100 (kurs Peso pada saat itu P.1 = Rp. 185) . Selain kami berenam di atas truk sudah ada beberapa petani yang juga akan berangkat ke daerah-daerah pertanian di sekitar Kapatagan.
Setelah hampir 2 jam terayun-ayun di truk yang melaju dengan kencang melintas jalan yang mulus, jam 6:10 kami turun di Camp Sabros yang merupakan pos lapor pendakian. Proses pelaporan dan pendaftaran berjalan lancar. Tarif resmi ijin pendakian adalah P.500 untuk lokal dan P.750 untuk orang asing. Dengan alasan saat ini bukan musim pendakian (musim pendakian di Filipina adalah bulan April dan Oktober), kami hanya dikenakan biaya ijin mendaki sebesar P.300 per orang untuk mereka, sedangkan untuk saya hanya dikenakan P.500.
Untuk melanjutkan perjalanan dari pos lapor ini kami menunggu jeepney sewaan ke tujuan berikutnya Kapatagan. Setelah lama menunggu di jalan sepi tanpa hasil, akhirnya diputuskan untuk menyewa tricycle (kendaraan becak bermotor) yang kebetulan melintas dengan biaya P.60. Rasanya lucu juga mengenderai tricycle yang seukuran bemo dengan 7 orang penumpang berikut pengemudi plus 6 buah ransel besar. Weng bahkan harus bergelantungan di luar karena tidak kebagian tempat. Untung jaraknya dekat, sebentar saja kami tiba di pasar Kapatagan yang berada pada ketinggian 1.130 mdpl. Kapatagan adalah sebuah desa kecil yang merupakan pusat perdagangan hasil bumi bagi desa-desa kecil sekitarnya.
Dari sini perjalanan dilanjutkan lagi dengan menyewa Suzuki Carry pick-up bergardan ganda (four-wheel drive) dengan biaya P.480. Yang menarik perhatian saya bahwa di Filipina beredar 2 versi Suzuki Carry, yaitu yang bergardan tunggal (seperti yang ada di Indonesia) dan yang bergardan ganda.
Jalan yang dilalui merupakan jalan off-road yang hanya bisa ditembus oleh kendaraan bergardan ganda. Beruntung beberapa hari terakhir ini hujan tidak turun sehingga walau pun dengan merangkak terseok-seok dan perlu beberapa kali turun untuk memindahkan batu-batu yang menghalang, kami akhirnya tiba juga di persimpangan jalan desa yang merupakan titik awal pendakian. Cuaca sangat cerah dengan langit biru dihiasi awan putih bersih dalam kelompok-kelompok kecil.
Gudi-Gudi
Jam 9:05 kami mulai berjalan kaki melintasi daerah pertanian rakyat. Perjalanan menanjak melewati daerah terbuka dan di bawah siraman cerahnya matahari pagi membuat produksi keringat meningkat tajam. Sebentar saja kaos oblong yang saya kenakan basah dan lengket ke badan. Setengah jam kemudian kami tiba di desa kecil Paradise yang berada pada ketingian 1.635 mdpl. Perjalanan kaki dilanjutkan lagi menuju desa kecil berikutnya Saboag. Sepenglihatan saya desa ini hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Sama dengan desa Paradise, konstruksi rumah di sini sangat sederhana, berdinding anyaman bambu atau papan tanpa sentuhan cat serta beratap seng.
Setelah berteduh sebentar dari teriknya matahari perjalanan kemudian dilanjutkan mendaki sebuah bukit kecil melalui jalan setapak di antara ladang penduduk.
Dua puluh menit kemudian kami tiba di sebuah pondok kayu yang dihuni oleh seorang pemburu setempat. Gudi-Gudi adalah seorang lelaki setengah baya dengan perawakan kecil. Walau pun demikian, karena kepiawaiannya dalam hal berburu dan pengetahuan yang rinci mengenai kawasan hutan di Mt. Apo, Gudi-Gudi sangat disegani di kalangan para pemburu. Bahkan salah satu areal perkemahan yang populer bagi para pendaki dan pemburu diberi nama Gudi-Gudi campsite karena beliau yang pertama kali menemukan lokasi tersebut.
Setelah beramah-tamah sejenak dengan beliau, perjalanan mendaki dilanjutkan. Kali ini medan yang kami lalui mulai terasa keaslian alamnya. Awalnya terdiri dari semak ilalang namun tidak terlalu lama berselang kami mulai memasuki kawasan hutan. Pepohonan, pakis hutan, dan semak ilalang bersirip tajam menghiasi trail ini. Keadaan hutan dan jenis pohonnya merupakan ciri khas hutan hujan tropis, jadi kurang lebih mirip dengan umumnya jalur pendakian di Indonesia. Pada beberapa bagian saya temukan juga tumbuhan berdaun gatal mirip tumbuhan pulus. Trailnya sendiri berupa tanah lembab dengan sudut kemiringan rata-rata 30-40 derajat.
Berbeda dengan trail di gunung-gunung populer di Indonesia yang selain lebar juga banyak ditemukan sampah bekas bungkus permen atau puntung rokok, trail di Mt. Apo ini sangat alami dan bersih. Entah karena trail ini jarang dilalui atau karena tingginya tingkat disiplin masyarakat, khususnya para pendaki setempat, dalam meminimalkan efek negatif kegiatan pendakian, terasa sekali trailnya sempit dan rapat dengan semak. Bahkan pada beberapa bagian tidak terlihat karena tertutup semak, paling tidak buat saya sulit untuk mengenali trail yang benar. Beruntung bahwa saya ditemani oleh orang-orang yang berpengalaman dengan lintasan ini, khususnya Edoc yang sudah 30 kali mendaki Mt. Apo.
Jam 12:30 kami melewati sebuah sungai kecil berair jernih. Di sini kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk makan siang dan berisitirahat. Perjalanan selanjutnya harus dilakukan dengan lebih teliti untuk menghindari akar-akar yang tersembunyi di bawah perdu. Selain itu banyaknya pohon tumbang yang harus kami panjat semakin menguras energi. Yang lebih menyulitkan lagi perjalanan terkadang harus dilakukan dengan cara merangkak di bawah batang pohon tumbang karena terlalu besar untuk dipanjat. Celah yang ada juga terlalu sempit dan hanya bisa dilalui dengan cara mengirim ransel terlebih dahulu baru kemudian orangnya menyusul.
Setelah 7 jam perjalanan yang melelahkan kami tiba di areal perkemahan Gudi-Gudi berupa sebidang tanah datar yang terlindungi oleh pohon-pohon besar pada ketinggian 2.210 mdpl. Saya berusaha untuk mengingat-ingat dalam perjalanan tadi beberapa kali kami melewati dataran kecil yang layak untuk berkemah. Tapi tidak satu pun dari lokasi-lokasi layak berkemah tersebut, termasuk Gudi-Gudi, yang memiliki shelter - bahkan sekedar tanda atau papan petunjuk saja tidak ada. Sangat berbeda dengan trail Gede-Pangrango di mana pada beberapa pos di sepanjang jalur pendakian berdiri bangunan permanen sebagai shelter. Sekali lagi saya salut pada sikap masyarakat setempat yang konsisten untuk membiarkan alamnya seperti apa adanya.
Malam ini kami melewati istirahat yang nyaman di bawah langit cerah dan sinar bulan yang berusaha menyusup melalui puncak-puncak pohon. Angin terdengar bertiup agak kencang menyelinap di antara kerimbunan dedaunan di areal kami berkemah.
Selesai makan malam acara dilanjutkan dengan mengobrol sambil mengosongkan beberapa botol Empedor, sejenis brandy buatan lokal. Walau merokok bukan lah sesuatu yang populer bagi mereka, rupanya minuman berkadar alkohol tinggi merupakan ‘bekal wajib’ bagi para pendaki di Filipina untuk mengusir udara dingin. Saya sendiri tidak ikut minum dan lebih memilih merokok untuk menghangatkan badan. Perlu dicatat bahwa di Davao City kaum perokok merupakan golongan minoritas. Selama berada di kota sangat jarang saya temukan orang yang merokok. Larangan merokok terpampang jelas dimana-mana di setiap bangunan dan fasilitas umum. Dalam tim kami ini pun hanya saya satu-satunya yang merokok.
Jam 10 malam obrolan diakhiri dan kami tidur di dalam 3 tenda - suhu pada jam tangan saya menunjukkan angka 18o C.
Boulder – Puncak
Pagi hari, setelah selesai sarapan dan berkemas, kami meninggalkan Gudi-Gudi melintasi sebuah sungai kecil. Kerapatan hutan sudah mulai merenggang dan akhirnya kami tiba pada daerah terbuka dengan hamparan batu-batuan besar (boulder) dengan sudut kemiringan sekitar 50 derajat. Cuaca cerah diselingi angin dingin yang kini dengan bebas menyentuh kami. Kali ini kami bebas untuk memilih jalur sendiri karena puncak punggungan yang harus dituju walau pun masih jauh di atas tapi dapat terlihat dengan jelas. Sambil bercanda Junior sempat berkomentar “Now you can make your own trail to reach that point”. Kali ini dibutuhkan keseimbangan yang baik untuk melangkah, terkadang meloncat di atas bebatuan. Di sebelah kiri terhampar batu-batu belerang dengan bau asapnya yang menyesakkan dada setiap kali angin menyapunya ke arah kami.
Jam 11:20 kami tiba di sisi punggungan yang merupakan bibir sebuah danau kecil bernama Dead Lake pada ketinggian 2.880 mdpl. Menurut mereka dulunya danau ini adalah mulut kepundan Mt. Apo. Sayang sekali cuaca yang tadinya bersahabat kini berubah berkabut tebal sehingga menghalangi pandangan saya untuk melihat sisi seberang Dead Lake.
Hempasan angin dingin yang semakin kencang dan kabut yang tebal memaksa kami untuk segera melanjutkan pendakian ke puncak punggungan. Sekitar 1 jam kemudian kami tiba pada puncak punggungan lalu melewati jalur menuju medan datar berumput yang luas. Dataran dengan ketinggian 2.924 mdpl ini merupakan areal perkemahan di sekitar puncak. Di ujungnya terdapat sebuah prasasti yang menempel pada bukit kecil bebatuan. Prasasti yang dibuat oleh Gubernur Cotabato, Mt. Apo Tourism Agency, Phillipine National Oil Company (PNOC), dan Guardians of Lake Venado ini berupa ucapan selamat kepada para pendaki bahwa mereka telah mencapai puncak. Tetapi puncak Mt. Apo sendiri sebenarnya masih berada kurang lebih 34 meter vertikal di atas prasasti ini. Kelak saya mencatat bahwa selain titik triangulasi di puncak, prasasati ini merupakan satu-satunya benda permanen buatan manusia yang terdapat di sepanjang trail Katapagan-Puncak-Kidapawan.
Mengenai ketinggian puncak Mt. Apo ini ada beberapa versi. Pada prasasti resmi dan beberapa sumber lainnya dituliskan elevasinya adalah 10.311 kaki (3.143 mdpl) sedangkan beberapa sumber tulisan lainnya lagi menyatakan kisaran antara 2.954 – 2.960 mdpl.
Kami meninggalkan ransel di bawah prasasti dan melanjutkan pendakian ke puncak. Tepat jam 12:35 siang kami menginjakkan kaki pada tonggak triangulasi yang merupakan titik tertinggi di seluruh Filipina. GPS saya menunjukan angka 2.958 mdpl dengan titik koordinat 06:59:340 N – 125:16:246 E.
Karena hanya kami satu-satunya tim yang mendaki saat ini, praktis rasanya Mt. Apo menjadi milik kami atau malah sebaliknya.
Tidak banyak yang bisa kami lakukan di puncak karena tebalnya kabut. Pemandangan ke bawah hanyalah warna putih yang pekat. Setelah berfoto sebentar kami segera turun kembali untuk mengambil ransel dan melanjutkan perjalanan turun ke arah utara menuju danau Venado (Lake Venado).
Skenario kecelakaan
Perjalanan turun ke danau Venado dalam cuaca cerah seharusnya menyenangkan, namun saat itu angin dingin yang bertiup kencang dan kabut yang tebal dengan jarak pandang sekitar 50 m terasa sangat membatasi pergerakan. Trailnya berupa tanah basah yang licin.
Akhirnya jam 15:25 kami tiba di danau Venado pada ketinggian 2.283 mdpl.
Malam ini kami mendirikan tenda dan bermalam di pinggiran danau Venado, suhu turun hingga 14o C. Angin kencang yang bertiup sepanjang malam memaksa saya kali ini untuk bergabung menghangatkan badan dalam acara minum Tanduay, sejenis minuman keras dari tebu yang sangat populer di Filipina.
Paginya kabut tebal masih menyelimuti kami sehingga saya agak kecewa tidak bisa menikmati pemandangan indah danau Venado dengan latar-belakang puncak Mt. Apo seperti foto-foto yang saya lihat di media on-line.
Di tengah acara sarapan, kami membahas mengenai rencana trail untuk turun. Berdasarkan peraturan yang baru berlaku para pendaki hanya diperbolehkan naik dan turun dari pintu yang sama. Kami yang naiknya lewat Kapatagan seharusnya kembali ke arah Kapatagan lagi. Namun tiba-tiba timbul ide untuk turun lewat jalur Kidapawan. Saya setuju sekali dengan ide ini karena dengan demikian dengan satu kali jalan saya bisa merasakan kedua jalurnya. Untuk menghindari denda dan resiko dipaksa kembali melalui route sebelumnya, kami harus bisa memberikan alasan yang bisa diterima oleh petugas ranger Kidapawan. Akhirnya diputuskan untuk mengarang skenario kecelakaan bahwa saya terpeleset dan jatuh di daerah berbatu (boulder) di mana salah satu lensa kacamata saya pecah. Berhubung kemampuan mata kiri saya lebih baik dari yang kanan, saya merelakan lensa kacamata yang sebelah kanan dilepas. Selain itu saya juga mengenakan kain pembebat lutut (knee support) di kedua kaki saya. Tampaknya konyol tapi apa boleh buat, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus kembali lagi ke puncak. Jam 08:15 kami meninggalkan danau Venado.
Trail ke arah Kidapawan ternyata tidak lebih mudah dari trail Katapagan. Bahkan pada beberapa bagian kami harus ekstra hati-hati menuruni medan tanah yang licin dan curam dengan sudut kemiringan 70 derajat, terutama mendekati daerah sekitar longsoran. Akhirnya jam 11:30 kami tiba di Mainit, sebuah daerah dengan ketinggian 1.530 mdpl di mana terdapat aliran air panas. Di sini pula kami berpas-pasan dengan seorang ranger yang tengah melakukan patroli rutin. Dengan meyakinkan Edoc menceritakan bahwa seorang penulis Indonesia yang tengah mereka pandu mengalami kecelakaan sehingga demi keamanan diputuskan untuk turun lewat trail Kidapawan ini. Rupanya melihat kondisi saya yang berkaca-mata satu dan berpembalut pada kedua lutut, cerita ini dapat diterima oleh ranger. Beliau juga senang ketika saya berbagi sebungkus penuh rokok kretek terkenal buatan Indonesia.
Tidak lama setelah meninggalkan Mainit kami tiba pada aliran sungai Marbel, dengan lebar badan sungai sekitar 30 meter tapi bagian yang berair hanya sekitar 2-3 meter. Dalam agenda pendakian lintasan ini dikenal dengan istilah "river trekking". Lumayan repot juga karena kami harus meloncat dari batu ke batu dan pada titik-titik tertentu harus berulang kali zig-zag menyeberangi dasar sungai Marble. Dalam hati saya hanya sempat mencatat sampai hitungan 8 kali menyeberangi sungai yang sama untuk selanjutnya saya terlalu lelah untuk mengingat.
Lepas dari lintasan sungai Marbel perjalanan kembali melewati beberapa alur air sampai akhirnya tiba pada tanda-tanda batas pemukiman berupa ladang labu siam (woluh) milik penduduk setempat.
Setelah melewati sebuah jembatan darurat berupa 2 batang kayu yang melintang di atas sungai, jam 14:20 akhirnya kami tiba di jalan konservasi geothermal milik PNOC, yang merupakan titik akhir perjalanan kami.
The Final Countdown
Di dalam bus dalam perjalanan pulang secara tidak sengaja pikiran saya terpaut pada sebuah berita yang pernah saya baca di harian Kompas mengenai rencana pemerintah untuk membangun jaringan kereta gantung Cibodas-G. Gede-G. Putri. Sesuatu yang bertolakbelakang dengan sikap pemerintah Filipina dalam merawat kelestarian alamnya. Sungguh saya sangat iri. Lamat-lamat dari sistem suara bus terdengar lagu “The Final Countdown”. Apakah ini sindiran bahwa kisah petualangan di negeriku akan berakhir dalam hitungan mundur?
…We're leaving ground (leaving ground)
…Will things ever be the same again
…It's the final countdown...
South Villa, MAA - Davao City,
Juli 2006
1 comment:
Ga aci banget. Udah dua taon, blog postnya blom nambah nambah!! Lebih parah daripada gaptek. Huahaha~
Post a Comment